September 19, 2018

Tentang waktu

Kahlil Gibran : Antara anak raja dan anak monyet

Betapa anehnya yang disebut “Waktu” dan betapa ganjilnya kita ini! waktu telah benar-benar berubah, ia telah merubah kita.
waktu telah menggeser langkahnya kedepan, mukanyatak tertutup, memperingatkan dan membesarkan hati kita

kemarin kita telah mengeluh soal waktu, dan tubuh kita gemetar ketika di terornya. tetapi sekarang kita telah belajar mencintai dan takzim kepadanya karena kita telah mengertu kemauan, sifat alamiah, rahasia, dan misterinya.

kemarin kita merangkak karena takutnya. takut kepada hantu malam dan ancaman siang. tetapi kita sekarang berjalan dengan tenang walaupun prahara dan halilintar menggelegar di atas kepala.
waiting
kemarin kita makan roti dengan keju darah dan meminum air mata. tetapi sekarang kita menyantap buah manna dari seorang penganten wanita pagi, dan meminum ranum yang wangi sesegar udara musim semi.

kemarin kita adalah mainan yang ada di tangan sang nasib, tetapi sekarang sang nasib telah tersadar dari mabuk nya, dan lantas bermain, tertawa, dan bergandeng tangan dengan kita. Kita tidak mengikutinya tetapi ia yang berjalan di belakang kita.

kemarin kita masih membakar dupa demi sang berhala, dan terpaksa menyerahkan korban persembahan dewa-dewa yang marah. Namun hari ini menyulut dupa dan menyembelih ternak untuk hidup kita sendiri, untuk semua para dewa yang maha besar dan mahaindah yang telah membangun kuil di hati kita.

Kemarin kita menunduk-nunduk pada sang raja dan menundukkan kepala kita di hadapan sultan. Tetapi hari ini kita telah menaruh hormat, kecuali kepada Kebenaran, dan tidak mengikuti seorang pun kecuali keindahan dan cinta.

kemarin kita mengikuti nabi-nabi dan tukang sihir yang lalim, namun hari ini waktu telah merubah kita. Kita sekarang berani menentang matahari dan mendengarkan nyanyian laut, tidak ada yang dapat menggoncangkan samudra kecuali badai dan topan.

kemarin kita meruntuhkan kuil-kuil jiwa kita, dan puing-puingnya kita bangun pusara nenek moyang, tetapi hari ini jiwa kita telah berpaling kepada altar yang tidak tersentuh masa lalu, yang tidak pula tersentuh oleh jari-jari kematian yang tidak berdaging.

kiata adalah pikiran diam yang tersembunyi di pojok-pojok kelupaan. namun hari ini kita adlah api yang mengamuk dan membakar puncak lembah. kita menghabiskan malam, bumi sebagai bantal dan salju sebagai selimutnya.

seperti biri-biri tanpa gembala, sesribu malam menggiring merekka dan menggembalakannya di kebun kita. Biri-biri itu memmamah rumput emosi di kebun kita, namun kita tetap merasa lapar dan dahaga.
sering kali kita berdiri di antara kemarin dan nanti malam sambil meratapi masa muda kita yang sia-sia. merindukan seorang yang entah siapa, ,elirik malam yang gelap dan hampa. mendengarkan rintihan keheningan dan jerit ketiadaan.

usia muda berlalu seperti serigala-sesrigala di antara tumpukan nisan. namun hari ini langit cerah, dan kita dapat beristirahan dengan tenang di atas kasur suci sambil menyambut renungan dan mimpi kita, serta merangkul nafsu kita sendiri. memegang obor dengan jari-jari yang lembut yang lidah apinya melambai di samping kita. berbincang dengan para jin tanpa sembunyi-sembunyi. Ketika sebuah paduan suara lewat di depan kita, mereka mabuk dengan kerinduan hati dan nyanyian jiwa kita.

About The Author

seorang programer sudah barang tentu tahu dan jago tentang code php, css, html, javascript dan temen-temennya, namun tidak semua programer tahu dan handal tentang kode yang di berikan oleh makluk yang paling misterius yaitu WANITA. di sini ada sisi lain tentang curahan hati canda dan tangis programer autis. ariwarnadotcom [programer juga manusia]

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *